obat otonomik


OBAT OTONOMIK/Indah Nurhayati/091.0041/S1-2A/STIKES HANG TUAH SURABAYA


OBAT OTONOM

Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam SSO dengan jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan,atau penguraian neurotransmitter atau memengaruhi kerjanya atas resptor khusus. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot polos dan organ, jantung dan kelenjar. Ada 2 macam golongan obat otonomik yakni, Golongan simpatomimetik (merangsang) yang kerjanya mirip dengan saraf simpatis, dan Golongan simpatolitik (menghambat) untuk simpatis dan parasimpatolitik. Menurut khasiatnya, obat otonom dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Zat-zat yang bekerja terhadap SO, yakni:

a. Simpatomimetika (adrenergika), yang meniru efek dan perangsangan SO oleh misalnya noradrenalin, efedrin, isoprenalin, dan amfetamin.

b. Simpatolitika (adrenolitika), yang menekan saraf simpatis atau melawan efek adrenergika. umpamanya alkaloida sekale dan propanolol.

2. Zat-zat yang bekerja terhadap SP, yakni:

a. Parasimpatikomimetika (kolinergika) yang merangsang organ-organ yang dilayani saraf parasimpatis dan meniru efek perangsangan oleh asetilkolin, misalnya pilokarpin dan fisostigmin.

b. Parasimpatikolitika (antikolinergika) justru melawan efek-efek kilonergika, misalnya alkaloida, belladona dan propantelin.

3. Zat-zat perintang ganglion

Yang merintangi penerusan impuls dalam sel-sel ganglion simpatis dan parasimpatis. Efek perintangan ini dampaknya luas, antara lain vasodilatasi karena blokade susunan simpatis, sehingga dipergunakan pada hipertensi tertentu. Sebagai obat hipertensi zat-zat ini umumnya tidak digunakan lagi berhubungan efek sampingnya yang menyebabkan blokade pula dari SP (gangguan penglihatan, obstipasi dan berkurangnya sekresi berbagai kelenjar).

1. OBAT SYMPATOMIMETIK / ADRENERGIKA



Merupakan obat yang memudahkan atau meniru beberapa atau semua tindakan dari system saraf simpatis. Obat adrenergika juga merupakan zat-zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan saraf simpatis dan melepaskan noradrenalin di ujung-ujung sarafnya. Zat-zat dengan efek-
sentral yang justru menghambat system adrenergic, misalnya klonidin, tidak termasuk adrenergika. Organism disiapkan agar dengan cepat dapat menghasilkan banyak energy, yaitu siap untuk suatu reaksi “fight, fright, or flight” (berkelahi, merasa takut atau melarikan diri). Oleh karena itu adrenergika memiliki daya yang bertujuan mencapai keadaan waspada tersebut.

a. Reseptor alfa dan beta

Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelompok menurut titik kerjanya di sel-sel efektor dari organ ujung, yakni reseptor-alfa dan reseptor-beta. Perbedaan antara kedua jenis reseptor didasarkan atas kepekaannya bagi adrenalin, noradrenalin dan isoprenalin.

Diferensiasi lebih lanjut dapat dilakukan menurut efek fisiologisnya, yaitu dalam alfa-1 dan alfa-2, serta beta-1 dan beta-2. Pada umumnya, stimulasi dari masing-masing reseptor itu menghasilkan efek-efek sebagai berikut:

v Alfa-1: menimbulkan vasokontriksi dari otot polos dan menstimulir sel-sel kelenjar dengan bertambahnya sekresi liur dan keringat.

v Alfa-2: menghambat pelepasan NA pada saraf-saraf adrenergic dengan turunnya tekanan darah. Munkin pelepasan ACh di saraf kolinergis dalam usus pun terhambat sehingga menurunnya peristaltic.

v Beta-1: memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung (efek inotrop dan katrotop)

v Beta-2: bronchodilatasi dan stimulasi metabolism glikogen dan lemak.

b. Mekanisme kerja

Katecholamin bekerja sebagai “pesuruh” (transmitter) dan mengikat diri pada reseptor yang berada di bagian luar membrane sel. Penggabungan ini mengaktifkan suatu enzim di bagian dalam membrane sel untuk meningkatkan pengubahan adenosine thiphosphate. ATP ini kaya akan energy, yang dibebaskan pada pengubahannya menjadi cAMP di dalam sel, mangakibatkan berbagai efek adrenergic.

c. Penggolongan

Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni:

· Zat-zat yang bekerja langsung, kebanyakan katecholamin bekerja langsung terhadap reseptor dari organ tujuan, antara lain adrenalin, NA dan isoprenalin. Dikenal pula dengan zat yang bias bekerja menurut kedua prinsip, seperti efedrin dan dopamine.

· Zat-zat yang bekerja secara tak langsung, Noradrenalin disintesa dan disimpan di ujung-ujung saraf adrenergic dan dapat dibebaskan dari depotnya dengan jalan merangsang saraf bersangkutan, dan dapat pula dengan perantaraan obat-obat seperti efedrin, amfetamin, guanetidin, dan reserpin.

d. Penggunaan

Berdasarkan khasiat tersebut, adrenergika digunakan pada bermacam-macam penyakit dan gangguan, yang terpenting diantaranya adalah:

· Pada shock guna memperkuat kerja jantung dan melawan hipotensi, khususnya adrenalin dan NA

· Pada asma guna mencapai bronchodilatasi, terutama salbutanol dan turunannya, juga adrenalin dan efedrin.

· Pada hipertensi guna menurunkan daya-tahan perifer dari dinding pembuluh dengan jalan menghambat pelepasan NA. disamping itu juga melalui blockade resptor dan (prazosin/propanolol dan turunannya)

· Sebagai vasodilator perifer pada vasokontriksi dibetis dan tungkai.

· Pada pilek (rhinitis) guna menciutkan mukosa yang bengkak, terutama zat-zat imidazolin, juga jarang-jarang efedrin dan adrenalin.

· Sebagai midriatikum guna melebarkan pupil, antara lain fenilefrin dan nafazolin.

· Pada obesitas guna menekan nafsu makan untuk menunjang diet menguruskan badan, khususnya fenfluramin dan mazindol.

· Sebagai penghambat his dan pada nyeri haid, berkat daya relaksasinya atas otot rahim, misalnya ritodrin.

e. Efek samping

Pada dosis biasa, adrenergika dapat menimbulkan efek samping terhadap jantung dan SSP, yaitu tachycardia dan jantung berdebar, nyeri kepala, gelisah dan sebagainya. Oleh karena itu, adrenergika harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang mengidap infark jantung, hipertensi dan hipertirosis.

Bila digunakan lama seperti pada asma, adrenergic bias menimbulkan tachyfylaxis, semacam resistensi yang terjadi dengan pesat bila obat diberikan berulang kali dalam waktu yang singkat. Yang terkenal adalah efedrin dan obat-obat lain dengan kerja tak langsung akibat habisnya persediaan NA. karena itu, obat-obat ini janganlah digunakan terus-menerus, melainkan diselingi dengan obat-obat asma lainnya.

f. Zat-zat tersendiri

A. Epinefrin : zat ini dihasilkan juga oleh anak-ginjal dan berperan pada metabolisme hidrat arang dan lemak. Adrenalin memiliki semua khasiat adrenergic-alfa dan –beta, tetapi efek betanya relatrif lebih kuat.

Penggunaannya, terutama sebagai analepticum yakni obat stimulans jantung yang aktif sekali pada keadaan darurat, seperti kolaps, shock anafilaktis, atau jantung berhenti. Obat ini sangat efektif untuk serangan asma akut, tetapi harus sebagai injeksi Karena peroral diuraikan oleh getah lambung. Pada glaucoma tertentu digunakan untuk menurunkan tekanan intraokuler. Efek ini sebelumnya sangat paradoksal, karena antagonis adrenalin banyak digunakan untuk menurunkan indikasi yang sama.

Efek sampingnya yang penting pada dosis tinggi adalah necrosis jari-jari akibat vasokontriksi dan akhirnya kolaps.

Dosis: pada asma akut s.c. 0,2-0,5 mg, bila perlu diulang dua kali setiap 20 menit, maks 1 mg tiap kali. Pada jantung berhenti/ bradycardia, shock anafilaktis i.m. 0,5 mg, disusul dengan i.v. 0,5-1,0 mg, bila perlu diulang setiap 2-5menit. Glaucoma terbuka1 tetes 2-5 mg/ml.

B. Norephinephrine

Efek farmakologi:

1. Sebagian besar α mempengaruhi ketika diberi terapi yang mana bertentangan dengan hasil yang diharapkan endrogin yang adrenergic mengalami vasokontriksi di sekeliling neurotransmitter.

2. Peningkatan dipembuluh darah secara diastolic dan sistolik.

3. Reflek bradycardia

Indikasi norephinephrine:

1. Shock karena darah yang mengalir di ginjal terhambat

2. Pengobatan dengan dopamine lebih baik untuk pertolongan pertama.

Macam-macam obat ephinephrine yakni:

1. Isoprenalin : isoproterenol, isoprel, lomudal cp.

Homolog adrenalin ini terutama memiliki efek β ( stimulasi jantung dan broncodilatasi), maka kini khusus digunakan pada asma dan sebagai stimulans sirkulasi darah. Pentakaran lebih seksama dicapai melalui aerosol (spray) dengan lama kerja kurang lebih 1jam. Spray ini tidak boleh diulang terlalu sering agar tidak menimbulkan overdosis.

Efek sampingnya terutama terjadi pada dosis tinggi dan berupa efek jantung dan efek sentral (gelisah, rasa takut, sukar tidur) juga gemetaran dsb.

Dosis: pada bronchospasme 0,08-0,4 mg maksimal 8 inhalasi larutan sulfat 1% sehari, untuk memperbaiki peredaran i.v. permulaan 0,02 mg, disusul dengan 0,01-0,2 mg.

2. Fenilefrin: Prefrin, Benadryl DMP, Vibrocil.

Obat ini terutama berdaya alfa-adrenergis secara tak langsung dengan jalan pembebasan NA dari ujung saraf. Daya kerjanya kurang lebih 10 kali lebih lemah dari adrenalin, tetapi bertahan lebih lama. Tidak menstimulir SSP, efek jantungnya ringan sekali.

Penggunaan lain adalah sebagai midriatikum pada pemeriksaan mata (larutan klorida 5-10%) yang dimulai setelah 20 menit dan bias bertahan selama 7 jam. Lagipula digunakan dekongestivum hidung dan mata (larutan 0,125-0,5%).

Sebagai efek samping tercatat antara lain lensa kontak lembut bias berwarna coklat tua. Karena masuk kedalam ASI dengan mengakibatkan hipertensi pada bayi, maka ibu yang menyusui tidak dianjurkan menggunakan tetes mata dengan zat ini.

3. Efedrin: Asmasolon, Bronchicum.

Daya kerjanya atas SSP relative lebih kuat terhadap jantung dan bertahan lebih lama. Selain bekerja langsung terhadap reseptor di otot polos dan jantung, juga secara tak langsung dapat membebaskan NA dari depotnya.

Penggunaan utamanya adalah pada asma berkat efek bronchodilatasi kuat (β2), sebagai decongestivum dan midriatikum yang kurang merangsang dibandingkan dengan adrenalin.

Efek sampingnya pada dosis biasa sudah biasa terjadi efek sentral seperti gelisah, nyeri kepala, cemas dan sukar tidur, sedangkan pada overdosis timbul tremor dan tachycardia, aritmia serta debar jantung. Wanita hamil boleh menggunakan efedrin.

Dosis: pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCL), anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis. Tetes hidung larutan sulfat 0,5-2%, dalam tetes mata 3-4%.

4. Amfetamin

Amfetamin termasuk kelompok psikostimulansia yang bercirikan menstimulasi SSP dan memperkuat pernafasan yang dihambat oleh obat-obat sentral lain. Aktifitas fisik dan mental meningkat, begitu pula inisiatif dan kelincahan. Kepercayaan pada diri sendiri dan prestasi diperbesar, sedangkan rasa kantuk dan keletihan dihilangkan (sementara). Amfetamin juga menimbulkan rasa nyaman/ maka berdasarkan sifat psikis ini dahulu digunakan sebagai obat antidepresi. Disamping itu amfetamin juga memiliki efek adrenergic yang meliputi vasokontriksi, bronchodilatasi, midriasis, dan kontraksi sfingter kandung kemih.

2. OBAT SIMPATOLITIK / ADRENOLITIKA



Adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh aktivitas susunan saraf simpatis. Misalnya, adrenolitika meniadakan vasokontriksi yang di timbulkan oleh aktivasi reseptor-alfa akibat adrenergika. Berdasarkan mekanisme dan titik kerjanya, adrenolitika dapat dibagi dalam tiga kelompok, yakni zat-zat penghambat reseptor adrenergic (alfa-blockers dan beta-blockers) dan zat-zat penghambat neuron adrenergic.

1. Alfa-blockers (α-simpatolitika)

Zat-zat ini memblokir reseptor-alfa yang banyak terdapat di jaringan otot polos dari kebanyakan pembuluh, khususnya dalam pembuluh kulit dan mukosa. Efek utamanya adalah vasodilatasi perifer, maka banyak digunakan hipertensi dan hipertrofi prostat. Prazosin juga digunakan pada gagal jantung. Dikenal tiga jenis alfa-blockers, yakni:

- Zat-zat tak selektif: fentolamin dan alkaloida ergot.

Fentolamin khusus digunakan untuk diagnosa dan terapi hipertensi tertentu. Juga pada gangguan ereksi sebagai injeksi intracaverneus. Alkaloida ergot, berkat daya vasokontriksinya banyak digunakan pada serangan migraine, juga dalam ilmu kebidanan untuk menghentikan perdarahan setelah persalinan.

- α1-blockers selektif: derivate quinazolin (prazosin, terazosin, tamsulosin, dll) serta urapidil. Penggunaannya sebagai obat hipertensi dan pada hyperplasia prostat.

- α2-blockers selektif: yohimbin, yang digunakan sebagai obat perangsang syahwat (aphrodisiacum).

2. Beta-blockers (β-simpatolitika)

Semula beta-blockers digunakan untuk gangguan jantung. Untuk meringankan kepekaan organ ini bagi rangsangan, seperti kerja berat, emosi, stress, dan sebagainya. Obat-obat ini dapat dibagi pula dalam 2 kelompok, yakni:

- Zat-zat β1 selektif, yang melawan efek dari stimulasi jntung oleh adrenalin dan NA (reseptor-β1), misalnya atenolol dan metoprolol.

- Zat-zat tak selektif, yang juga menghambat efek bronchodilatasi (reseptor-β2), misalnya propanolol, alprenolol dll.

- Labetolol dan carvedilol merupakan zat-zat yang menghambat kedua reseptor (alfa + beta)

3. Penghambat neuron adrenergic : derivate guanidine (guanetidin).

Zat-zat ini tidak memblokir reseptor melainkan bekerja terhadap bagian postganglioner dari saraf simpatis dengan jalan mencegah pelepasan katecholamin. Guanetidin khusus digunakan pada jenis glaucoma tertentu.

a. Zat-zat tersendiri

Yohimbin

Alkaloida ini diperoleh dari kulit pohon corynanthe yohimbe (afrika barat). Kulit pohon tersebut juga mengandung alkaloida lain, yaitu aspidospermin.

Dalam dosis rendah dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan pada dosis lebih tinggi justru menurunkannya. Oleh karena itu terjadi vasodilatasi perifer yang mengakibatkan penyaluran darah diperkuat ke organ-organ di bagian bawah perut.

Efek sampingnya dapat berupa penurunan tensi, pusing, berkeringat kuat, debar jantung, tremor, agitasi, gelisah dan sukar tidur, kejang bronchi dan gejala yang mirip lupus. Pada penderita gangguan jiwa, dosis rendah dapat mencetuskan depresi.

Dosis: oral 3-4 dd 5-10 mg.

3. PARASYMPATIKOMIMETIKA / KOLINERGIK



Adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (Ach) di ujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi sebagai asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbulah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur.

a a. Penggolongan

Kolinergika dapat dibagi menurut cara kerjanya, yaitu zat-zat dengan kerja langsung dan zat-zat kerja secara tak langsung.

1. bekerja langsung: karbachol, pilokarpin, muskarin, dan arekolin. Zat-zat ini bekerja langsung terhadap organ-ujung dengan kerja utama yang mirip efek muskarin dari ACh. Semuanya adalah zat-zat amonium kwaterner yang bersifat hidrofil dan sukar memasuki SSP kecuali arekolin.

2. bekerja tak langsung: zat-zat antikolinesterase seperti fisostigmin, neostigmin dan pyridostigmin. Obat-obat ini menghambat penguraian ACh secara reversible, yakni hanya untuk sementara. Setelah zat-zat tersebuthabis diuraikan oleh kolinesterase, ACh segera akan dirombak lagi.

b. Penggunaan

Kolinergika khusus digunakan pada penyakit mata glaucoma, myasthenia gravis, demensia Alzheimer dan atonia.

  1. glaucoma

star hijau (glaucoma) adalah penyakit mata yang bercirikan peningkatan cairan mata intraokuler diatas 21 mm Hg, yang bias menjepit saraf mata. Penyebabnya, cairan mata terbentuk di mukosa tipis di belakang pupil, di corpus ciliare dan via liang pupil mengalir ke ruang sempit antara pupil dan kornea ke saluran keluar. Bila cairan ini tidak dapat mengalir keluar dari ruang mata depan karena misalnya penyumbatan, maka cairan mata intraokuler meningkat.

  1. Myasthenia gravis

Ini adalah suatu penyakit auto-imun yang bercirikan keletihan dan kelemahan dari terutama otot-otot muka, mata dan mulut. Penyebabnya adalah kekurangan relative dari ACh di pelat ujung motoris dari otot lurik. Kekurangan ini disebabkan oleh antibodies igG, yang telah merusak reseptor ACh setempat .

  1. Demensia Alzheimer

Berdasarkan penemuan bahwa kadar ACh diotak berkurang pada demensia, maka digunakan penghambat kolinesterase untuk mencegah perombakan dan meningkatan kadar ACh di otak.

  1. atonia

setelah pembedahan besar dengan stressnya bagi tubuh adakalanya terjadi peningkatan aktivitas saraf adrenergic. Akibatnya dapat berupa obstipasi dan sukar berkemih, bahkan obstruksi usus akibat pengenduran dan kelumpuhan peristaltic.

c. Efek samping

Efek samping kolinergika adalah sama dengan efek dari stimulasi SP secara berlebihan, antara lain mual, muntah-muntah dan diare, juga meningkatnya sekresi ludah, dahak keringat dan air mata.

4. PARASYMPATIKOLITIKA / ANTIKOLINERGIKA


Antikolinergika atau parasimpatolitika melawan khasiat asetilkolin dengan jalan menghambat terutama reseptor-reseptor muskarin yang terdapat di SSP dan organ perifer. Zat-zat ini tidak bekerja terhadap reseptor-reseptor Nikotin kecuali zat-zat ammonium kwartener yang berdaya ringan terhadapnya.

Kebanyakan antikolinergika tidak bekerja selektif bagi lima subtype reseptor-M. berefek terhadap banyak organ tubuh antara lain; mata, kelenjar eksokrin, paru-paru, jantung saluran kemih, saluran lambung-usus, dan SSP.

a. Penggolongan

Antikolinergika dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:

  1. alkaloida belladonna: atropine, hyoscyamin, skopolamin dan homatropin
  2. zat ammonium kwartener: propantelin, ipratopium dan tiotropium
  3. zat amin tersier: pirenzepin, flavoxat, oksibutinin, tolterodin dan tropicamida.

b. Penggunaan

Tergantung pada sifat spesifiknya masing-masing, antikolinergika digunakan dalam farmakoterapi untuk bermacam-macam gangguan, yang terpenting diantaranya adalah:

  1. sebagai midriatikum, untuk melebarkan pupil dan melumpuhkan akomodasi (atropine, homatropin, tropikamida)
  2. sebagai spasmolitikum (pereda kejang otot) dari saluran lambung-usus, saluran empedu dan organ urogenital.
  3. pada inkontinensiurin pada kandung kemih instabil akibat hiperaktivitas dari otot detrusor.
  4. sebagai zat anti mabuk jalan, guna mencegah mual dan muntah(skopolamin)

c. Efek samping

berupa efek-efek muskarin yakni mulut kering, obstipasi, retensi urin, tachycardia, palpitasi dan aritmia, gangguan akomodasi, midriasis dan berkeringat. Pada dosis tinggi timbul efek sentral, seperti gelisah, bingung, dan halusinasi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. DRS. TJAY, TAN HOAN & DRS. RAHARDJA, KIRANA: 2002: OBAT-OBAT PENTING, khasiat, penggunaan, dan efek-efek sampingnya: JAKARTA; PT Elex media komputindo.
  2. Katzung g. Bertram.2002.Farmakologi Dasar dan Klinik.Buku 2 Edisi 8.Jakarta:Salemba Medika
  3. Joyce L Kee, Evelyn R Hayes.1994.Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta:Buku Kedokteran
  4. Sulistia,G. Ganiswara.1999.Farmakologi dan Terapi.Jakarta:Gaya Baru
  5. katzung, Bertram G.1998.Farmakologi Dasar dan Klinik.Edisi VI.Jakarta:EGC
  6. Deglin & Judith Hopfer.2004.pedoman obat untuk perawat.jakarta.EGC.
  7. Sulistia,G. Ganiswara.1999.Farmakologi dan Terapi.Jakarta:Gaya Baru
  8. M.J.Neal.2006.Atglance.FarmakologiMedis.Edisi5.Erlangga: Jakarta
  9. Olson,James,M.D., Ph.D.2003. Belajar Mudah Farmakologi. Jakarta: EGC
  10. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.2007. farmakologi dan terapi edisi 5.Jakarta: Balai Penerbit FKUI
  11. Judith Hopfer Deglin dan April Hazard Vallerand.Pedoman Obat Untuk Perawat:Jakarta:EGC

0 komentar:



Poskan Komentar